Hello, I'm Husada. I'am a student in Junior High School. And all here is mine.
Loading...

Misteri 10 Tulah Mesir

A. Tulah mesir dalam Al Kitab Tulah Mesir (bahasa Ibrani: מכות מצרים atau Makot Mitzrayim ), at...

A. Tulah mesir dalam Al Kitab

Tulah Mesir (bahasa Ibrani: מכות מצרים atau Makot Mitzrayim), atau Sepuluh Tulah (bahasa Ibrani: עשר המכותatau Eser Ha-Makot) adalah sepuluh bencana yang didatangkan oleh Tuhan atas bangsa Mesir sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Keluaran, pasal 7-12, untuk meyakinkan Firaun agar membebaskan bangsa Israel dari perbudakan dan pergi ke tanah Kanaan.
Kesepuluh tulah tersebut, sesuai urutannya di dalam Alkitab, adalah:
  1. (Keluaran 7:14-25) sungai dan semua sumber air berubah menjadi darah hingga menewaskan ikan-ikan dan semua kehidupam air lainnya. (Dam)
  2. (Keluaran 7:26-8:11) binatang-binatang amfibi (biasanya diyakini sebagai katak) (Tsfardeia)
  3. (Keluaran 8:12-15) lalat (Kinim)
  4. (Keluaran 8:16-28) nyamuk (Arov)
  5. (Keluaran 9:1-7) penyakit pada ternak (Dever)
  6. (Keluaran 9:8-12) barah yang tidak dapat disembuhkan (Shkhin)
  7. (Keluaran 9:13-35) hujan es bercampur api (Barad)
  8. (Keluaran 10:1-20) belalang (Arbeh)
  9. (Keluaran 10:21-29) kegelapan (Choshech)
  10. (Keluaran 11:1-12:36) kematian anak-anak sulung dari semua keluarga Mesir. (Makat Bechorot

Latar belakang

Israel (Yakub) sebenarnya dahulu sudah hidup di tanah Kanaan. Namun oleh karena bencana kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun, seperti yang sudah diramalkan oleh Yusuf dari mimpi Firaun, Israel dan anak-anaknya pindah ke Mesir. Di sana mereka berkembang menjadi suatu bangsa yang besar jumlahnya, sehingga membuat Firaun yang baru yang tidak mengenal Yusuf, takut kalau-kalau bangsa Israel nantinya akan membelot dan berbalik menyerang Mesir. Sehingga berbagai cara diterapkan oleh Firaun agar bangsa Israel tidak semakin banyak dan tidak memberontak, salah satunya dengan kerja rodi.
Kerja rodi untuk membangun Mesir ini dibuat oleh Firaun sedemikian beratnya sehingga membuat seluruh bangsa Israel mengeluh. Dikisahkan dalam Alkitab, keluhan bangsa Israel ini terdengar sampai ke telinga Tuhan siang dan malam, sehingga Tuhan akhirnya mengutus seseorang bernama Musa untuk membebaskan bangsa Israel.
Pada awalnya, Musa datang kepada Firaun dengan baik-baik untuk meminta Firaun membiarkan bangsa Israel pergi, namun Firaun mengeraskan hatinya. Bahkan paska kedatangan Musa yang kali pertama itu membuat Firaun memperberat perbudakan dan kerja paksa yang diberlakukan kepada seluruh bangsa Israel itu. Hal itu membuat Tuhan bertindak dengan mulai menurunkan tulah ke atas tanah negeri Mesir lewat Musa. Kendatipun seluruh negeri Mesir mengalami 10 bencana tersebut, bangsa Israel yang diam di tanah Gosyen di dalam wilayah Mesir tidak mengalami sedikitpun bencana yang dialami oleh bangsa Mesir itu.

Peringatan kepada Firaun

Sebelum kesepuluh tulah dijatuhkan, Tuhan telah memberi peringatan kepada Firaun dengan menyuruh Musa datang ke hadapan Firaun. Saat itu, Firaun menyuruh Musa dan Harun, kakaknya, untuk melakukan mujizat di hadapannya. Harun melemparkan tongkatnya, seperti yang diperintahkan Tuhan, dan tongkat itu menjadi ular. Melihat hal tersebut, para ahli-ahli sihir Firaun tidak mau dikalahkan. Mereka juga membuat mujizat yang sama dengan membuat tongkat-tongkat mereka menjadi ular. Namun tongkat Harun menelan tongkat-tongkat para ahli sihir itu.
Dengan demikian, Firaun mengeraskan hatinya untuk tidak membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir. Maka Tuhan menyuruh Musa bersiap-siap dengan tulah yang pertama.

Sepuluh tulah dijatuhkan

Menurut Alkitab, Tuhan menyuruh Musa untuk meminta Firaun mengeluarkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Namun Tuhan juga menyatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan membuat hati Firaun mengeras, dengan maksud untuk memperbanyak tanda-tanda mujizat (tulah) itu kepada bangsa Mesir, sebagai hukuman karena telah memperbudak bangsa Israel sedemikian lama, sekaligus juga agar bangsa Israel dapat menceritakan kepada keturunan-keturunannya yang kemudian, bagaimana Tuhan telah melakukan mujizat-mujizat di hadapan mata mereka, agar mereka selalu ingat bahwa Tuhanlah Allah.

Tulah pertama: air menjadi darah

Tulah yang pertama adalah air sungai Nil menjadi darah. Musa melakukannya dengan memukulkan tongkat yang ada di tangannya ke atas air sungai Nil. Maka seluruh sungai Nil menjadi darah dan ikan-ikan di dalamnya mati. Seluruh tanah negeri Mesir menjadi penuh dengan darah oleh karena rembesan sungai Nil tersebut.
Tulah ini dimaksudkan untuk memperingatkan orang Mesir bahwa bahkan sumber kehidupan mereka yang terutama sekalipun dapat dibuat Tuhan menjadi musuh mereka. Tanpa air dari sungai Nil, seluruh pekerjaan di Mesir terhenti. Seluruh rakyat Mesir lebih mementingkan berusaha mencari air bersih, daripada meneruskan pekerjaan memperbudak orang Israel. Ahli-ahli sihir Firaun juga dapat membuat hal yang sama.
Tulah ini berhenti setelah tujuh hari berlalu. Namun Firaun bersikeras tidak mau melepaskan bangsa Israel dari tanah Mesir.

Tulah kedua: katak

Tulah yang kedua adalah adanya katak-katak yang memenuhi seluruh negeri Mesir, oleh karena Firaun sekali lagi menolak untuk melepaskan orang Israel. Harun melakukannya dengan mengulurkan tangannya ke atas negeri Mesir. Dan bermunculanlah katak-katak dalam jumlah yang sangat besar dari dalam sungai Nil memenuhi negeri Mesir. Ahli-ahli sihir Firaun juga dapat membuat hal yang sama dengan mantera-mantera mereka.
Tulah ini berhenti setelah Musa meminta kepada Tuhan untuk melenyapkan katak-katak itu. Permintaan ini atas permintaan Firaun dengan janji bahwa ia akan melepaskan orang Israel. Tuhan mengabulkan. Namun, kendati katak-katak itu mati, bangkai katak-katak itu tidak lenyap dari muka bumi negeri Mesir, sehingga ketika dikumpulkan orang-orang bangkai katak-katak itu hingga bertumpuk-tumpuk, seluruh negeri Mesir berbau busuk.
Setelah tulah katak berhenti, dan dilihat Firaun ada kelegaan, Firaun pun tidak menepati janjinya untuk melepaskan orang Israel.

Tulah ketiga: nyamuk

Tulah yang ketiga adalah debu menjadi nyamuk. Debu itu ada di seluruh tanah Mesir, oleh karena itu, nyamuk-nyamuk itu pun menjadi ada di seluruh tanah Mesir. Tulah ini terjadi tanpa peringatan terlebih dahulu, sebab tulah ini menjadi hukuman bagi Firaun oleh karena Firaun melanggar janjinya di tulah kedua. Harun melakukannya dengan memukulkan tongkatnya ke debu tanah. Ahli-ahli sihir Firaun pun mencoba untuk membuat hal yang sama dengan mantera mereka, tetapi tidak dapat.
Tulah ini dimaksudkan oleh Tuhan untuk memperingatkan Firaun bahwa tidak ada yang dapat menyamai kekuasaan Tuhan, sekalipun dengan sihir dan mantera. Bahkan ahli-ahli sihir itu sendiri yang menyatakan kepada Firaun bahwa "inilah tangan Allah". Namun Firaun masih tetap bersikeras hati.
Tidak diceritakan dalam Alkitab bagaimana tulah ini berhenti, atau apakah tulah ini akhirnya berhenti atau tidak.

Tulah keempat: lalat pikat

Sebelum tulah yang ketiga berakhir, Tuhan telah menyuruh Musa untuk menyampaikan kabar tentang tulah keempat. Tulah yang keempat adalah munculnya ribuan lalat pikat yang memenuhi seluruh negeri Mesir. Namun di Gosyen tempat bangsa Israel tinggal, satupun tidak didapati ada lalat pikat di situ. Musa dan Harun tidak melakukan apa-apa agar tulah ini terjadi. Tidak diketahui, apa yang sebenarnya dilakukan oleh lalat-lalat pikat tersebut, namun disebutkan bahwa lalat pikat itu membuat seluruh bangsa Mesir menderita.
Tulah ini dimaksudkan oleh Tuhan untuk mempermalukan orang Mesir dengan dewanya sendiri, Baalzebub. Baalzebub sering digambarkan sebagai dewa lalat, yaitu dewa kesuburan dan kelimpahan. Dengan Tuhan memakai simbol dewa orang Mesir sendiri untuk menyiksa orang Mesir, Tuhan hendak menyatakan bahwa mereka tidak dapat bergantung pada dewa-dewa mereka untuk menyelamatkan diri dari tulah Tuhan.
Tulah itu berhenti setelah Firaun meminta kepada Musa untuk menghentikan lalat-lalat tersebut, dengan jaminan bahwa bangsa Israel diperbolehkan untuk pergi ke padang gurun yang tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada Allah. Musa memintanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan. Namun demikian, Firaun kembali melanggar janjinya.

Tulah kelima: penyakit sampar pada ternak

Setelah peringatan kembali diabaikan, tulah kelima disebarkan. Tulah yang kelima adalah penyakit sampar pada binatang ternak. Seluruh ternak di negeri Mesir terkena sampar, sehingga seluruh ternak orang Mesir mati. Namun seluruh ternak-ternak Israel yang diam di negeri Gosyen tidak ada mati sama sekali. Musa dan Harun tidak melakukan apa-apa agar tulah ini terjadi.

Tulah keenam: barah

Tulah keenam adalah barah (bisul) yang berbentuk gelembung yang memecah, pada manusia dan binatang yang tersisa di seluruh Mesir. Harun dan Musa melakukannya dengan mengambil jelaga dari dapur peleburan, kemudian menghamburkannya ke udara. Bahkan ahli-ahli sihir itupun juga kena barah, sama seperti semua orang Mesir.
Tulah ini sekali lagi dimaksudkan Tuhan untuk membuktikan bahwa tidak ada yang dapat melepaskan diri dari kekuasaan Tuhan, bahkan sihir dan mantera sekalipun.
Tidak diceritakan dalam Alkitab bagaimana tulah ini berhenti, atau apakah tulah ini akhirnya berhenti atau tidak.

Tulah ketujuh: hujan es

Sebelum tulah keenam berakhir, Tuhan sudah menyuruh Musa mengumumkan kepada Firaun tentang tulah ketujuh. Tulah yang ketujuh adalah hujan es, beserta api yang berkilat-kilat di antara es tersebut. Tuhan memberi peringatan kepada Firaun untuk menyelamatkan mengamankan semua orang dan ternak, sebab semua yang ada di padang pada saat tulah ini terjadi, pastilah mati. Musa melakukannya dengan mengulurkan tangannya ke langit. Seperti sebelumnya, hanya di tanah Gosyen yang tidak ditimpa oleh hujan es ini.
Tulah ini dimaksudkan sebagai hukuman yang dashyat atas Mesir. Di Alkitab, hujan es bercampur api ini digambarkan dengan kata-kata "terlalu dashyat" dan "seperti yang belum pernah terjadi".
Tulah itu berhenti atas permintaan Firaun kepada Musa. Firaun bahkan mengakui kesalahannya dan bersedia untuk menghentikan hujan es itu. Namun setelah Musa mengulurkan tangannya ke langit dan hujan es itu berhenti, maka sekali lagi Firaun melanggar janjinya.

Tulah kedelapan: belalang

Tulah yang kedelapan adalah belalang. Tulah ini diadakan oleh karena Firaun sekali lagi menolak untuk membiarkan seluruh bangsa Israel, baik tua muda, laki-laki dan perempuan, beserta ternaknya, untuk pergi. Yang diijinkan Firaun untuk pergi hanyalah laki-laki saja, dengan maksud agar bangsa Israel tidak melarikan diri sesudah mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan di padang gurun. Musa melakukannya dengan mengulurkan tangannya ke atas tanah Mesir. Maka bertiuplah angin Timur yang membawa belalang-belalang "sehari-harian, semalam-malaman, dan setelah pagi hari," angin Timur itu masih membawa belalang.
Tulah ini dimaksudkan sebagai penghabisan untuk segala hal-hal yang masih tinggal di atas Mesir, setelah penyakit sampar pada ternak, barah, dan hujan es. Tulah ini menghabiskan seluruh tumbuhan yang ada di Mesir. Kedashyatan belalang-belalang ini digambarkan oleh Alkitab dengan kata-kata "sangat banyak", "sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya".
Tulah itu berhenti atas permintaan Firaun kepada Musa. Firaun sekali lagi mengakui kesalahannya, dan berniat membebaskan bangsa Israel. Musa berdoa kepada Tuhan. Maka Tuhan mengirimkan angin dari jurusan sebaliknya, yakni angin Barat yang kencang, sehingga meniup belalang-belalang itu masuk ke dalam laut Teberau. Satupun belalang tidak ada yang tinggal di tanah Mesir. Dan Firaun tetap mengeraskan hatinya.

Tulah kesembilan: gelap gulita

Tulah yang kesembilan adalah gelap gulita selama tiga hari. Musa melakukannya dengan mengulurkan tangannya ke langit. Tetapi di seluruh tempat orang Israel ada terang.
Kegelapan itu sangat dashyat, digambarkan oleh Alkitab dengan kata-kata "orang dapat meraba gelap itu", "tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya". Sebenarnya tulah ini dimaksudkan Tuhan untuk "menyerang" dewa tertinggi orang Mesir, yaitu Amon-Ra, atau Dewa Matahari. Dengan membuat Matahari tidak dapat bersinar selama tiga hari, Tuhan "mengklaim" kemenangan atas dewa orang Mesir dan mempermalukan seluruh dewa orang Mesir dan orang Mesir yang beribadah kepadanya.
Tulah ini berhenti dengan sendirinya setelah tiga hari lewat berlalu.

Tulah kesepuluh: anak sulung mati

Tulah yang kesepuluh, dan yang terakhir, adalah tulah yang akan menyebabkan semua anak sulung di negeri Mesir mati.
Pada sembilan tulah yang sebelumnya, tulah-tulah tersebut hanya mengenai tanah Mesir, sementara lokasi tempat orang Israel tinggal (di Gosyen), sekalipun juga berada di dalam bagian tanah Mesir, luput dari tulah tersebut. Sebab Tuhan memberikan suatu pembatas yang tidak membenarkan tulah-tulah itu melewati pembatas itu. Namun, pada tulah yang kesepuluh, yang juga adalah tulah penghabisan karena setelah itu bangsa Mesir melepaskan orang Israel, tulah tersebut juga dapat mengenai anak-anak sulung Israel. Maka dari itu, Tuhan menyuruh Musa mengadakan suatu acara bagi tiap keluarga Israel, yaitu menyembelih, memanggang dan memakan seekor anak domba jantan atau anak kambing jantan berumur setahun pada suatu waktu senja yang ditentukan. Kemudian dari darah tersebut dibubuhkan sedikit pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas pintu pada tiap-tiap rumah keluarga yang memakannya. Maka saat malaikat maut lewat untuk mencabut nyawa para anak sulung di tiap-tiap keluarga, malaikat maut tersebut akan melewatkan setiap rumah yang pada ambang pintu itu telah ada darah anak domba, yaitu korban pengganti bagi setiap anak sulung pada keluarga di rumah itu. Itulah Paskah yang pertama. Demikianlah Paskah diperingati oleh orang Israel mula-mula sebagai tanda peringatan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir, yaitu Tuhan telah menyediakan bagi bangsa Israel anak domba sebagai ganti setiap anak sulung di Israel.

Orang Israel keluar dari Mesir

Setelah tulah yang kesepuluh diberlakukan, kedengaranlah jerit tangis dan ratap di seluruh negeri Mesir, sebab tidak ada satupun dari rumah orang Mesir yang anak sulungnya tidak mati. Maka orang-orang Mesir itu segera memanggil Musa dan Harun, dan mendesak mereka untuk segera pergi dari tanah Mesir, karena mereka takut "nanti kami mati semuanya" (Keluaran 12:33). Orang-orang Mesir itu bahkan bermurah hati kepada mereka dan memberikan kepada orang Israel barang-barang yang orang Israel minta dari orang Mesir. Dan kemudian, berangkatlah orang-orang Israel dengan berjalan kaki, kira-kira enam ratus ribu orang berjalan kaki, tidak termasuk anak-anak. Rute perjalanan mereka adalah dari Raamses ke Sukot. Setelah mengambil tulang-tulang Yusuf dari situ (Yusuf pernah mengamanatkan agar tulang-tulangnya tidak dikubur di Mesir, namun di tanah kelahirannya, di Kanaan), kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Etam. Kemudian mereka balik lagi ke Pi-Harihot, antara Midgol dan laut, tepat di depan Baal-Zefon. Di sanalah mujizat yang terkenal yang diadakan oleh Tuhan melalui Musa, terjadi, yaitu membelah Laut Merah.



B. Tulah mesir dalam Qur'an dan Islam

Dalam Al-Quran, kita akan menemukan ayat tentang tulah yang Allah berikan kepada Mesir, yakni:

فأرسلنا عليهم الطوفان والجراد والقمل والضفادع والدم آيات مفصلات فاستكبروا وكانوا قوما مجرمين

 Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.7:133

Secara garis besar, tulah dalam islam lebih sedikit, namun, jika kita bandingkan, maka, tulah-tulah itu akan sama dan berhubungan, namun dalam hal ini, kita akan kehilangan 1 tulah. yakni, kematian anak sulung mesir.



C. Tulah mesir dalam Penelitian
 
Para Ilmuan mengklaim bahwa 10 Tulah yang disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama yang menghantam Mesir merupakan akibat dari pemanasan global dan letusan gunung berapi.

Para peneliti percaya bahwa mereka telah menemukan bukti dari bencana alam yang nyata berdasarkan 10 tulah yang menimpah Mesir, yang membuat Musa membebaskan orang Israel dari perbudakan, yang tertulis dalam Kitab Keluaran.

Namun mereka tidak menjelaskannya sebagai hukuman dan murka Allah. Para ilmuan mengklaim tulah yang terjadi dapat diatribusikan sebagai mata rantai dari suatu fenomena alam akibat perubahan iklim dan bencana lingkungan yang terjadi ratusan mil jauhnya.

Mereka telah mengumpulkan bukti-bukti yang memberikan penjelasan-penjelasan yang baru mengenai tulah Alkitabiah, yang dibuat outline dalam sebuah serial yang akan ditayangkan oleh National Geographic Channel pada Minggu Paskah.

Para arkeolog sekarang secara luas percaya bahwa tulah yang terjadi di kota tua Pi-Rameses di Nile Delta, yang adalah ibu kota Mesir pada masa pemerintahan Firaun Rameses II, yang memerintah antara 1279 SBM and 1213 SBM.

Kota itu kelihatannya telah ditinggalkan sekitar 3.000 tahun yang lalu dan para ilmuan mengklaim bahwa tulah tersebut bisa memberikan penjelasan.

Para ahli iklim mempelajari iklim yang terjadi di masa lalu telah menemukan sebuah perubahan iklim yang drastis yang terjadi di sekitar akhir dari pemerintahan Rameses II.
Dengan mempelajari stalagma yang berada di gua-gua mesir mereka mampu membangun kembali sebuah catatan mengenai pola-pola cuaca dengan menggunakan jejak-jejak yang mengandung elemen-elemen radioaktif dalam batu-batuan di gua-gua tersebut.

Mereka menemukan bahwa Rameses secara kebetulan memerintah pada saat iklim yang hangat, dan iklim yang basah tetapi kemudian berubah ke periode iklim yang kering.
Profesor Augusto Magini, seorang paleoclimatologist di Heidelberg University's institute untuk environmental physics, mengatakan: "Firaun Rameses II memerintah pada periode iklim sangat bagus.

"Terjadi curah hujan yang banyak dan negaranya subur. Namun, periode basah ini hanya berlangsung beberapa dekade yang pendek. Setelah pemerintahan Rameses, iklimnya turun secara drastis.

"Terjadi sebuah periode yang kering yang tentu saja menyebabkan konsekuensi yang serius."

Para ilmuan percaya bahwa perubahan iklim tersebut telah memicu wabah atau tulah yang pertama.

Naiknya temperatur menyebabkan mengeringnya sungai nil, sehingga merubah aliran sungai yang mengalir dengan cepat berubah menjadi mengalir lambat dan menjadi aliran lumpur.

Kondisi seperti ini menjadi sangat sempurna bagi datangnya tulah yang pertama, yang di dalam Alkitab digambarkan sebagai air (sungai Nil) berubah menjadi darah.

Dr Stephan Pflugmacher, seorang ahli biologi di Institut Leibniz untuk Water Ecology dan Inland Fisheries di Berlin, percaya bahwa diskripsi ini bisa terjadi karena akibat dari ganggang air yang mengandung racun.

Ia mengatakan bakteri, yang dikenal dengan istilah Burgundy Blood algae atau Oscillatoria rubescens, yang diketahui sudah ada 3000 tahun yang lalu dan masih menyebabkan efek yang sama hingga hari ini.

Ia mengatakan:"Itu memutiplikasi secara masif dalam air hangat yang bergerak secara perlahan dengan nutrisi level tinggi. Dan ketika bakteri itu mati, ia akan menyebabkan air berwarna merah. "

Para ilmuwan juga mengklaim bahwa kedatangannya ganggang ini menimbulkan selanjutnya tulah kedua, ketiga dan keempat – katak, kutu dan lalat.

Katak berkembang dari berudu hingga ke bentuk yang dewasa sepenuhnya diperintah oleh hormon yang dapat mempercepat pengembangan mereka dalam masa-masa stres.

Kedatangan dari ganggang yang mengandung racun telah memicu suatu transformasi sedemikan rupa dan mendesak katak-katak tersebut untuk meninggalkan air di mana mereka hidup.

Tetapi ketika katak-katak tersebut mati, itu akan berarti bahwa nyamuk, lalat dan serangga lainnya akan bertumbuh subur tanpa predator dan membuat jumlah mereka menjadi tidak terkontrol.

Menurut para ilmuan, hal tersebut akan menimbulkan tulah kelima dan keenam – penyakit pada ternak dan campak.

Profesor Werner Kloas, seorang ahli bioogi di Leibniz Institute, mengatakan: "Kita tahu bahwa serangga sering membawa penyakit seperti malaria, jadi langkah selanjutnya dalam reaksi berantai ini adalah penjangkitan epidemik, yang menyebabkan populasi manusia jatuh sakit."

Bencana alam besar lainnya yang terjadi lebih dari 400 mil jauhnya saat ini dipikirkan menjadi penyebab dari tulah ketujuh, delapan dan sembilan yang membawa hujan es, belalang dan kegelapan di Mesir.

Salah satu dari letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah manusia terjadi ketika Thera, sebuah gunung berapi yang menjadi bagian dari Santorini, kepulauan Mediteranian, yang berada persis di sebelah utara Kreta (Crete), meletus sekitar 3500 tahun yang lalu, menebarkan miliaran ton debu vulkanis ke atmosfir.

Nadine von Blohm, dari Institute untuk Atmospheric Physics Jerman, telah melakukan eksperimen-eksperimen mengenai bagaimana badai hujan es terbentuk dan percaya bahwa debu-debu vulkanis dapat berbenturan dengan badai kilat di atas Mesir untuk menghasilkan badai hujan es yang dramatis.

Dr Siro Trevisanato, seorang ahli biologi dari Canda yang telah menulis sebuah buku mengenai tulah-tulah tersebut, mengatakan munculnya belalang bisa dijelaskan dalam hubungannya dengan vulkanis yang jatuh keluar dari debu.

Ia mengatakan: "Debu yang jatuh menyebabkan penyimpangan cuaca, yang diterjemahkan ke dalam hujan(es) yang lebih tinggi, kelembapan yang lebih tinggi. Dan tepatnya itulah yang mendorong kehadiran belalang-belalang."

Debu vulkanis juga telah menutupi cahaya matahari sehingga menyebabkan cerita mengenai tulah kegelapan.

Para ilmuan juga telah menemukan batu apung, batu yang terbuat dari lahar vulkanis yang dingin, selama penggalian reruntuhan Mesir walaupun tidak terdapat satu pun gunung berapi di Mesir.

Analisa dari batu tersebut menunjukan bahwa batu itu berasal dari gunung berapi Santorini, dan hal itu memberikan bukti fisik bahwa debu yang keluar dari letusan di Santorini mencapai wilayah Mesir.

Penyebab dari tulah terakhir, kematian anak-anak sulung Mesir, diperkirakan disebabkan oleh suatu jamur yang meracuni persediaan gandum, di mana anak laki-laki sulung menjadi yang pertama yang harus memakannya sehingga menjadi yang pertama yang menjadi korban.
Reaksi: 

Poskan Komentar

Beranda item

This Month's Favorite

Follow by Email